Meski demikian, Iman menilai upaya yang dilakukan Amsakar–Li Claudia sudah maksimal.
Langkah-langkah evaluasi menyeluruh, penataan ulang prioritas, serta upaya pembenahan sistem distribusi terus dilakukan di tengah tekanan dan sorotan publik.
“Membenahi air bukan pekerjaan instan. Ini bukan soal memperbaiki keran bocor, tapi membangun ulang fondasi sistem pelayanan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.
Ia menambahkan, tanpa dukungan sosial dan stabilitas politik, upaya pembenahan justru berpotensi tersendat.
Baca Juga: MTQH ke-XX Tingkat Kelurahan Melayu Kota Piring Resmi Dibuka
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak saling menyalahkan, apalagi melemahkan legitimasi kepemimpinan yang sedang bekerja menyelesaikan persoalan struktural ini.
Iman menekankan bahwa kritik tetap penting sebagai bagian dari kontrol publik, namun harus diarahkan secara konstruktif.
Dukungan masyarakat menjadi faktor kunci agar pembenahan sistem air bersih dapat berjalan berkelanjutan dan menghasilkan dampak jangka panjang.
“Air adalah kebutuhan dasar. Ketika pemimpin sudah bekerja di garis depan, maka tugas masyarakat adalah memberi kepercayaan, mendukung dengan cara yang bijak, dan mengawal agar perubahan benar-benar terwujud,” ujarnya.
Baca Juga: LAM Kepri Kota Tanjungpinang Peringati Isra Mikraj, Fokus Tingkatkan Kualitas Ibadah
Menurut Iman, persoalan air adalah cermin kedewasaan sebuah kota.
Cara Batam menyikapi krisis ini akan menentukan apakah kota ini hanya tumbuh besar secara fisik, atau benar-benar matang sebagai kota yang berkeadaban dan berkeadilan bagi warganya.***