Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama pada Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Sebagai tuan rumah, ada tekanan pada Korea Selatan untuk menampilkan performa terbaik dan membuat kemajuan yang signifikan dalam kompetisi yang sudah berapa kali mereka ikuti.
Kenyataannya, sangat mencolok bahwa ofisial pertandingan (wasit) bertekad untuk melihat kemajuan Taeguk Warriors tersebut ke tahap yang jauh di turnamen empat tahunan tersebut.
Baca Juga: Ada 4 Official Song Piala Dunia 2022 Qatar Semuanya Bertema Dunia Bersatu
Pada saat babak 16 besar Piala Dunia 2002, fans Italia akan menyaksikan salah satu kontroversi terbesar. Pemimpin pertandingan, Byron Moreno dari Ekuador, yang tampaknya bertekad untuk melihat kemajuan Korea Selatan, memberikan sedikit angin kepada tuan rumah.
Dalam pertandingan itu, Moreno entah bagaimana menganulir gol dari Italia dan kemudian mengusir Francesco Totti karena dinilai sudah melakukan aksi diving. Korea Selatan kemudian memenangkan pertandingan 2-1 berkat aturan gol emas sudden death oleh Ahn Jung Hwan.
Baca Juga: FIFA Membuat Protokol Baru di Piala Dunia 2022 Mengenai Cedera Gegar Otak Saat Pertandingan
Gol Hantu Lampard (Piala Dunia 2010)
Tanggal 27 Juni di Bloemfontein, Afrika Selatan, terjadi clash antar rival yatu Inggris kontra Jerman. Seperti biasa, fans Inggris memiliki harapan dan seluruh bangsa Inggris membebani bahu para pemain mereka untuk melangkah jauh di Piala Dunia.
Itu adalah pertandingan melawan Jerman di babak 16 besar dan Die Mannschaft melakukannya dengan sangat baik, karena mereka mencuri gol lebih dulu di babak pertama berkat dua gol dari Miroslav Klose dan Lukas Podolski.
Baca Juga: Kapan Deadline Pendaftaran Skuad Piala Dunia 2022 Qatar? Masih Banyak Pemain Bintang Yang Cedera
Namun Matthew Upson membalaskan satu gol untuk Inggris, gol itu memberi asa kepada Inggris untuk menyamakan kedudukan. Inggris tiba-tiba memiliki kesempatan untuk menyelamatkan kampanye Piala Dunia mereka karena saat itu hangat pembicaraan tentang 'Generasi Emas' Steven Gerrard dkk.
Kontroversi pun dimulai ketika Frank Lampard tampaknya telah berhasil menyamakan kedudukan untuk Inggris setelah tembakan menakjubkan dari luar kotak penalti keluar dari mistar dan memantul tepat di dalam garis gawang, tetapi entah bagaimana wasit menilai itu bukan gol dan permainan berlanjut.
Baca Juga: FIFA Meminta Kepada Peserta Piala Dunia 2022 Qatar Agar Fokus Saja Pada Urusan Sepakbola
Sontak Lampard terheran-heran dengan keputusan, dan pemain, ofisial, dan penggemar Inggris kembali murka, seperti kejadian Hand of God Maradona pada tahun 1986.
Jerman sendiri melenggang karena memenangkan pertandingan dengan skor 4-1, yang membuat kecewa para pemain dan penggemar Inggris untuk kesekian kalinya. Andaikan gol hantu Lampard disahkan, bisa jadi cerita lain untuk Jerman.