KLIKREAD - Piala Dunia 2022 Qatar sudah di depan mata, mengingat kita sudah memasuki bulan November. Drawing sudah dilakukan dan 32 tim sudah terbagi ke dalam delapan grup.
Ada grup 'neraka' dan grup yang rumit, dan ada yang bilang juga ada grup mudah ketika hasil drawing keluar. Namun itu semua adalah hal diatas kertas, turnamen Piala Dunia bisa bikin kejutan atau semakin menambah rivalitas jika dalam grup tersebut tergabung dua atau tiga negara yang memang punya persaingan di luar maupun di dalam lapangan hijau.
Baca Juga: Mari Kita Lihat Lebih Dekat 8 Stadion Yang Disiapkan Oleh Qatar Untuk Piala Dunia 2022
Salah satunya bisa terlihat di Grup G Piala Dunia 2022 Qatar, yang dihuni oleh Swiss, Serbia, Brasil, dan Kamerun. Yang cukup unik adalah Swiss dan Serbia, dua negara yang berjarak 1000 km, namun memiliki perseteruan di luar lapangan berkait dengan situasi politik.
Serbia dan Swiss memiliki rivalitas yang kaya akan sejarah dengan hal-hal yang diperkirakan akan menarik di Grup G saat keduanya berhadapan di Qatar.
Baca Juga: Felix Sanchez Bas, Orang Dibalik Sukses Membangun Sepakbola di Qatar
Sementara sebagian besar persaingan atau rivalitas internasional mereka lahir dari permasalahan yang berbatasan dengan negara lain, Swiss terletak lebih dari 1000 kilometer Barat Laut Serbia.
Alasan persaingan mereka memiliki makna yang jauh lebih dalam, bukan sekedar perbatasan geografis belaka.
Lantas apa yang menyebabkan mereka memiliki rivalitas yang cukup sengit?
Cerita dimulai dengan Kosovo, bekas provinsi Serbia di mana banyak orang Swiss yang merupakan penduduk Kosovo yang terpaksa mengungsi. Diantara pengungsi-pengungsi terebut ada keluarga mantan bintang Liverpool Xherdan Shaqiri dan keluarga gelandang Arsenal Granit Xhaka.
Kedua pemain penting Swiss ini merupakan keturunan Kosovo-Albania. Mereka berdua sempat menjadi berita utama di Piala Dunia 2018 Rusia. Aksi selebrasi mereka dalam merayakan dengan menggambarkan elang hitam seperti yang ada di bendera Albania.
Baca Juga: Pemain Yang Dengan Penampilan Terbanyak di Piala Dunia, Ada Maradona dan Paolo Maldini
Akibat aksi mereka FIFA pun terpaksa turun tangan, membuka proses indisipliner setelah aksi 'politik' masuk dalam sebuah pertandingan sepakbola. Hal ini juga dilakukan oleh FIFA setelah federasi sepakbola Serbia mengajukan keluhan resmi ke FIFA.