Banyak orang yang mengkritik pelatih Korsel saat ini Paulo Bento yang asal Portugal. Kritikan yang diarahkan kepada Paulo Bento dikarenakan gaya permainan yang diterapkan dilapangan agak kaku dan terlalu bergantung pada Son dan terkadang berjuang untuk memaksimalkan agresifitas Son seorang. Pertahanannya juga kurang kokoh.
Namun kritikan tersebut sedikit terjawab dengan dibuktikan oleh Paulo Bento yang meloloskan Korsel ke putaran final Piala Dunia yang ke-11 kalinya atau ke-10 secara berturut-turut.
Jika menilik prestasi Korsel di putaran final Piala Dunia, capaian tertinggi pasukan Taeguk Warriors tersebut bisa mencapai semifinal pada edisi 2002 saat mereka menjadi tuan rumah. Itulah capaian tertinggi untuk wakil dari negara Asia atau wakil AFC.
Setelah lolos ke Piala Dunia melalui kualifikasi zona Asia, performa Korsel bisa dibilang kurang baik dalam jeda internasional bulan lalu. Hasil imbang 2-2 melawan Kosta Rika dan kemenangan 1-0 atas Kamerun yang mereka dapatkan akan menjadi catatan kurang maksimal menjelang Piala Dunia 2022.
Dengan lawan-lawan yang alot dengan Portugal, Uruguay, dan Ghana, asosiasi sepak bola Korsel gagal mencari lawan untuk pertandingan pemanasan. Lawan yang mereka hadapi bukan yang lebih kuat. Apalagi pertandingan melawan Kosta Rika dan Kamerun, Korsel menjadi tuan rumah namun hasilnya mengecewakan.
Paulo Bento belum bisa memaksimalkan potensi pemain Korsel yang saat ini memang banyak yang bermain di level tertinggi Eropa.
Fondasi Tim disekitar Son Heung-min
Son Heung-min adalah talenta terbaik Korsel yang musim lalu menjadi top skor Liga Inggris. Tetapi musim lalu dia sering berjuang sendiri untuk mencari ruang di depan kotak penalti lawan. Son namoak berbahaya sekali jika dia mendapatkan momentum di depan kotak penalti.
Son diharapkan juga sama berbahayanya jika bermain untuk Korsel, menjelajah ruang 1/3 akhir lawan bisa dari kiri atau kanan. Itu semua dia lakukan karena tandemnya Harry Kane di Spurs bisa memberi ruang gerak lebih kepada Son.
Sejak mengambil alih Korsel pada tahun 2018, Paulo Bento telah bereksperimen dengan menamdemkan Son agar ia lebih leluasa memaksimalkan talenta, kecepatan, dan akurasi tembakan dari luar kotak penaltinya.
Paulo Bento mencoba Hwang Ui-jo, penyerang klub Yunani Olympiakos, yang merupakan tipikal nomor 9 murni. Tapi Hwang tidak menciptakan ruang untuk Son seperti yang dilakukan oleh kompatriotnya Cho Gue-sung dari Jeonbuk Hyundai.