Selain itu, kaa dia, posisi geografis Kepri di Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, menjadi keunggulan strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal.
“Kepulauan Riau berada di titik strategis jalur perdagangan global.
Ini bukan sekadar keunggulan geografis, tetapi peluang ekonomi besar yang harus kita kelola untuk kesejahteraan masyarakat,” jelas Ansar.
Dalam pengembangan kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK), Ansar menjelaskan, Pemerintah Provinsi Kepri terus mendorong kawasan ini menjadi hub logistik internasional.
Tentunya mampu meningkatkan nilai investasi, arus barang dan penumpang, serta kunjungan wisatawan.
Berdasarkan data terkini, kata Ansar, realisasi investasi kawasan BBK menunjukkan tren positif, dengan total investasi mencapai 4,67 miliar dolar AS atau sekitar Rp78,38 triliun.
Capaian tersebut kaanya, menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap Kepulauan Riau.
Baca Juga: Wawako Li Claudia Tegaskan Validitas Data Kunci Membaca Kebutuhan Riil Masyarakat Batam
“Capaian ini menunjukkan kepercayaan investor terus tumbuh.
Namun kita tidak boleh berpuas diri, karena potensi Bintan dan Karimun masih sangat besar untuk dikembangkan,” kata Ansar.
Sementara penguatan KPBPB juga didukung hadirnya berbagai regulasi nasional, di antaranya Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pengembangan KPBPB BBK,
Serta sejumlah kawasan strategis yang telah ditetapkan di Bintan dan Karimun.
Menurut Ansar, keberhasilan pengembangan KPBPB sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah serta sinergi seluruh pemangku kepentingan.