Namun, versi lain menyebut bahwa nama jalan ini diambil dari bahasa Sunda, yakni "baraga" yang berarti berjalan di tepi sungai.
Kata ini sesuai dengan letak Jalan Braga yang berada di tepi Sungai Cikapundung.
Sebagai kawasan peninggalan kolonial, jalan ini menjadi kawasan bersejarah.
Baca Juga: Berkunjung ke Rumah Belanda Serasa Menikmati Suasana Berada di Negara Kincir Angin
Banyak bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Salah satunya adalah Gedung DENIS yang merupakan Bank Hindia Belanda dan kini merupakan Kantor Pusat Bank BJB.
Pada era perjuangan kemerdekaan, bendera Belanda yang berkibar di gedung tersebut disobek hingga menyisakan warna merah putih, mirip seperti yang dilakukan warga Surabaya di Hotel Majapahit.
Ada juga Gedung Merdeka yang dibangun pada 1895.
Baca Juga: NuArt Sculpture Park Wisata Edukasi Menawarkan Berbagai karya Seni Terkenal Dunia
Dedung ini dulunya digunakan sebagai Societeit Concordia dan menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
Kini, jalan ini terkenal sebagai pusat seni dan kuliner.
Pada awal 1990-an, jalan ini terbilang sepi. Kondisi Braga mulai berubah ketika tokoh seni Bandung, Ropih Amantubillah atau Abah Ropih, menjadikan trotoar jalan sebagai area pamer karya lukisan para seniman pada 2000.
Hal itu menginspirasi seniman lainnya untuk ikut menunjukkan dan menjual karyanya hingga merambah di sepanjang Jalan Braga.
Baca Juga: Berkuliner Sambil Berwisata Menikmati Pemandangan Indah Berkunjung ke Mercusuar Cafe and Resto
Bisa dibilang, seni menjadi salah satu pemicu bangkitnya pariwisata Jalan Braga.