otomotif

Produsen Otomotif Honda Alami Kerugian Operasional Pertama dalam Tujuh Dekade

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:16 WIB

KLIKREAD.COM - Produsen otomotif Honda Motor mencatatkan kerugian operasional tahunan untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun terakhir pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.

Laporan keuangan yang dirilis pada Kamis 14 Mei 2026 kemarin, menunjukkan tekanan besar dari investasi kendaraan listrik dan kebijakan tarif perdagangan luar negeri.

Dilansir dari Money, Honda membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,92 triliun.

Baca Juga: Jika Putaran Mesin Motor Tidak Stabil saat Dinyalakan, Inilah Penyebabnya

Angka ini berbanding terbalik dengan periode sebelumnya ketika perusahaan masih mampu mengantongi laba operasional sebesar 1,2 triliun yen atau setara Rp133,08 triliun.

Pembengkakan beban perusahaan dipicu oleh pencadangan dana bisnis elektrik (EV) yang bermasalah serta dampak tarif Amerika Serikat senilai 346,9 miliar yen.

Selain itu, Honda menghadapi persaingan ketat dari produsen mobil asal China yang agresif menguasai pasar kendaraan energi baru.

"Lingkungan bisnis di sekitar perusahaan berubah dengan cepat, dan prospeknya tetap tidak pasti," tulis Honda dalam laporan keuangannya.

Baca Juga: Perlu Anda Ketahui, Inilah Ciri-Ciri Jika Bearing Shockbreaker Motor Rusak

Manajemen memutuskan untuk membatalkan pengembangan dan peluncuran beberapa model listrik di Amerika Utara sebagai langkah restrukturisasi.
Kebijakan ini diperkirakan menelan biaya tambahan lebih dari 9 miliar dollar AS atau sekitar Rp158,35 triliun.

"Dalam lingkungan yang menantang dan kompetitif seperti ini, perusahaan juga merevisi rencana peluncuran produk untuk beberapa model EV tertentu," kata Honda.

Meski rapor keuangan memerah, saham Honda melonjak 7,42 persen menjadi 1.418 yen pada perdagangan Jumat 15 Mei 2026.

Baca Juga: Pahami Segera Inilah Penyebab Bagian Pintu Mobil Rusak atau Karatan

Kenaikan ini dipicu oleh panduan laba masa depan yang melampaui ekspektasi pasar meskipun risiko investasi masih membayangi.

Halaman:

Tags

Terkini