"Kami sepakat di Komite Eksekutif bahwa Rusia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022." Blatter menambahkan.
Baca Juga: Neymar Dalam Kondisi yang Siap Memenangkan Piala Dunia 2022 Qatar
"Itu akan menjadi isyarat perdamaian jika kedua rival politik itu menjadi tuan rumah Piala Dunia satu demi satu," jelas mantan presiden FIFA, yang diberhentikan dari jabatannya pada 2015 karena tuduhan korupsi.
Kandidat lainnya termasuk Jepang, Australia dan Korea Selatan, serta Qatar.
Baca Juga: Messi dan Beban Membawa Argentina Juara Piala Dunia 2022
Blatter Memberikan Tuduhan Kepada Platini
Blatter kemudian kembali memberikan keterangan tentang Michel Platini yang saat itu menjadi Presiden UEFA, asosiasi sepakbola Eropa.
"Seminggu sebelum kongres FIFA 2010, Michel (Platini) menelepon saya untuk memberi tahu saya bahwa rencana kami (mereka berpikir untuk memberikan Piala Dunia ke Amerika Serikat) tidak akan berhasil," kata Blatter.
"Saya baru saja diundang oleh Presiden Prancis Nicola Sarkozy, yang telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan putra mahkota Qatar.
Baca Juga: JEMPOLAN! Abdurrahman Iwan dan Andri Syahputra, Pemain Berdarah Indonesia yang Bela Timnas Qatar
"Suara Platini sangat menentukan untuk pemberian Qatar, itu benar. Dan tentu saja ada masalah uang yang terlibat. Enam bulan setelah pertemuan itu, Qatar membeli jet tempur dari Prancis senilai 14,6 miliar dolar."
Tuduhan Blatter semakin memanaskan kontroversi yang menyelimuti penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Terakhir pekan lalu, Presiden FIFA, Gianni Infantino, merespon berbagai macam isu-isu yang menyerang tuan rumah Qatar.
Baca Juga: Brasil Umumkan 26 Pemain Untuk Skuad Piala Dunia 2022 Qatar
Respon yang diberikan oleh Infantino adalah, "Tolong, sekarang mari kita fokus hanya pada sepakbola!" itu adalah isi surat FIFA kepada 32 negara peserta karena mereka berlaga di Piala Dunia.