KLIKREAD.COM - Perlu kita waspadai jika Ghibah mencakup berbagai bentuk, baik dalam lisan maupun tulisan seperti berghibah dalam media sosial.
Meski kita tidak membicarakan secara lisan namun menggunakan tulisan atau hate comment di sosial media juga bisa termasuk kedalam ghibah.
Ghibah atau menggunjing termasuk dalam kategori perbuatan buruk yang bisa menghilangkan pahala puasa.
Sehingga, meskipun seseorang tetap menahan diri dari makan dan minum, namun jika ia tidak menjaga lisannya dari ghibah, puasanya menjadi sia-sia.
Namun tidak membatalakn puasanya, artinya puasanya tetap sah.
Hal ini dijelaskan oleh Imam An-Nawawi (wafat 676 H), dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab:
“Apabila seseorang melakukan ghibah saat puasa, maka ia berdosa dan tidak batal puasanya menurut pandangan kita (mazhab Syafi’i), hal ini juga selaras dengan yang dikemukakan oleh mazhab Maliki, Hanafi dan Hanbali.
Baca Juga: Ramadan Merupakan Musim Perlombaan Manusia Menang dan Beruntung
Kecuali menurut pandangan Imam Al-Auza’i,menurutnya puasa batal disebabkan perbuatan ghibah dan wajib untuk diqadha.”
(Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Beirut: Dar Al-Fikr], juz VI, halaman 356).
Pendapat yang dilontarkan oleh An-Nawawi ini kemudian didukung dengan pernyataan Syekh Sa’id bin Muhammad Baisyan (wafat 1270 H) dalam kitabnya:
Baca Juga: Makan Sahur Merupakan Sunnah Dianjurkan bagi Orang Berpuasa
فَإِذَا اغْتَابَ مَثَلًا حَصَلَ عَلَيْهِ إِثْمُ الْغِيْبَةِ لِذَاتِهَا، وَبَطَلَ ثَوَابُ الصَّوْمِ لَا الصَّوْمُ بِمُخَالَفَةِ الْأَمْرِ الْمَنْدُوْبِ بِتَنْزِيْهِ الصَّوْمِ عَنْهَا، كَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَحَادِيْثُ، وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِي وَالْأَصْحَابُ