Selain jalur trem, ada juga penemuan harta karun berupa sisa infrastruktur saluran air kuno Batavia yang ditemukan diperkirakan berasal dari abad 17-18 Masehi serta struktur jembatan Glodok kuno.
Menurut Arkeolog Prof Junus Satrio Atmodjo, pipa terakota itu dibangun di tahun 1750-an atau era VOC. Sementara pipa air pada tahun 1920-an, dan rel trem pada 1883-1959.
Penemuan jalur trem yang sangat panjang, yakni di sekitar kawasan Harmoni, Mangga Besar, dan Kota disebut sangat penting dan jadi saksi bisu peradaban Jakarta sejak abad ke-18.
Sama halnya dengan saluran air kuno yang dulu sempat jadi bagian sistem pasokan air bersih alias waterleiding ke kota Batavia pada abad 18, yang dialirkan melalui kolam air menuju ke benteng/kastil Batavia yang sekarang jadi area Museum Fatahilah.
Menurut Prof Junus, penemuan-penemuan tersebut adalah saksi besar perubahan kehidupan budaya di Jakarta dan bukan yang terakhir yang akan ditemukan di kawasan proyek MRT.
Menurut arkeolog Charunia Arni Listya, penemuan artefak di sekitar proyek MRT Jakarta tersebut memang wajar. Soalnya, lokasi proyek berdekatan dengan pusat kota Batavia alias Jakarta tempo dulu.
Kawasan tersebut adalah pusat niaga, pusat pemerintahan, dan pemukiman di mana pasti ada lebih banyak artefak sejarah yang masih terkubur.
Bukan tidak mungkin akan ada cagar budaya yang kembali ditemukan di masa depan. Apalagi, proyek pengerjaan jalur MRT fase 2 ini masih terus berlangsung.***